Kreativitas Tanpa Batas! Intip Keseruan Pentas Drama Projek Bahasa Indonesia Kelas XI SMKN 2 Balikpapan
- Senin, 25 Mei 2026
- Berita Sekolah Liputan Siswa Pentas Drama
- adminweb
- 0 komentar
Foto bersama perwakilan pemeran drama bersama guru-guru (doc: Jurnalistik Skada)
SKADA Liputan Sekolah — Halo Sobat Prestasi! Siapa bilang tugas sekolah selalu ngebosenin dan bikin mager?
Kali ini, siswa-siswi kelas XI SMKN 2 Balikpapan yang tidak PKL sukses memecahkan suasana dengan menggelar pementasan drama projek mata pelajaran Bahasa Indonesia yang keren dan penuh totalitas banget!
Tepat pada pukul 10.25, acara dibuka oleh MC Bu Laela dengan membaca basmalah. Pementasan ini dihadiri oleh tiga juri yang siap memberikan penilaian, yaitu:
- Bu Mariani Anwar, S.Pd. (Guru PKN)
- Pak Zaki Nur Anas, S.E.I. (Guru Sejarah)
- Bu Catur Anggraheni, S.Pd. (Guru Bimbingan Konseling)
Tujuan dari pentas ini sebenarnya bukan untuk mencetak siswa menjadi aktris atau aktor profesional, guys.
Melainkan, seni pertunjukan ini digunakan sebagai alat yang ampuh untuk melatih kolaborasi, kepemimpinan, kedisiplinan, dan kreativitas yang siap diadaptasi di dunia kerja nantinya. Mantap banget, kan?

Pembukaan oleh MC Bu Laela (doc: Jurnalistik Skada)
Sambutan Resmi dan Sesi Foto Bersama
Agenda berikutnya adalah sambutan sekaligus pembukaan acara secara resmi oleh Wakil Kepala SMKN 2 Balikpapan Bidang Manajemen Mutu, Bapak Edy Widodo, S.Pd.
Dalam sambutannya, Bapak Edy melihat bahwa anak-anak memiliki kreativitas yang luar biasa. Beliau berharap para pemain dapat tampil secara maksimal.
Selain itu, beliau juga berharap adik kelas yang hadir bisa mempelajari penampilan dari kelas XI, karena tahun depan mereka juga akan menampilkan pentas.
Setelah acara resmi dibuka, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara para perwakilan pemeran drama dan guru-guru yang hadir beserta penonton.

Sambutan dan pembukaan secara resmi oleh Bapak Edy (doc: Jurnalistik Skada)

Foto bersama perwakilan pemeran dan guru-guru (doc: Jurnalistik Skada)

Foto bersama guru-guru dan penonton (doc: Jurnalistik Skada)
Pertunjukan Sebelum Waktu Ishoma
Tepat pukul 10.40, pementasan drama pun resmi dimulai. Yuk, kita intip penampilan dari masing-masing kelas!
1. Kelas XI LP: "Hajjah Rangkayo Rasuna Said"
Pentas pertama dibuka oleh kelas XI LP dengan membawakan kisah perjuangan pahlawan wanita.
Cerita ini mengisahkan tentang Rasuna yang ingin menjadi perempuan pintar dan bersekolah tinggi.
Sayangnya, banyak orang di sekitarnya yang mencibir dan bilang bahwa perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi karena tugasnya hanya di rumah. Namun, Rasuna tetap teguh ingin berguna bagi bangsa.
"Apa gunanya perempuan jika hanya bisa jaga rumah tanpa ilmu. Jika lelaki bisa melawan penjajah, mengapa perempuan harus diam?" Baginya, ilmu tidak hanya untuk dipelajari tapi juga harus diperjuangkan.
Karena keberaniannya berpidato dan menyadarkan rakyat bahwa perempuan bisa memperjuangkan bangsa, Rasuna akhirnya ditangkap oleh penjajah Belanda dan dimasukkan ke dalam penjara.
Di dalam penjara, Rasuna tidak patah arang; ia tetap mengajarkan tahanan lain cara membaca.
Walau suaranya bisa dibungkam, namun tulisan tidak. Rasuna tetap membuat tulisan dan menyebarkannya untuk membela kebenaran.



Penampilan dari kelas XI LP (doc: Jurnalistik Skada)
2. Kelas XI BD: "Nyanyian di Pantai Selatan"
Masuk ke pentas kedua, penonton disuguhi drama legendaris yang kental akan unsur mistis.
Pertunjukan dibuka dengan anggun lewat tarian Putri Kandita.
Kisah bergulir pada nasib tragis Kandita yang dikutuk menjadi cacat akibat rasa iri dari ibu dan saudari tirinya.
Karena kondisinya tersebut, Kandita diusir dari istana agar tidak menjadi aib kerajaan.
Sang ayah yang tersadar telah mengusir putri kesayangannya akhirnya didera penyesalan mendalam, hingga berbalik mengusir istri dan anak tirinya.
Saat mereka kabur ke laut, mereka diserang oleh Kandita yang datang membalaskan dendamnya.
Singkatnya, drama ini mengemas legenda asal-usul Nyi Roro Kidul dan ditutup dengan tarian menawan.



Penampilan dari kelas XI BD (doc: Jurnalistik Skada)
Pertunjukan Berlanjut setelah Ishoma
3. Kelas XI TKJ: "Lokanika Dirgantara"
Pentas ketiga membawa penonton melintasi waktu dalam balutan sejarah, cinta, dan teknologi.
Cerita dimulai pada tahun 1950 ketika ayah Rudy, Alwi Abdul Jalil Habibie meninggal dunia akibat serangan jantung.
Berlanjut ke Jerman Barat tahun 1995, kita disuguhkan perjuangan Rudy yang bertekad menyelamatkan banyak nyawa.
"Kita butuh jembatan udara," pikirnya, yang memicu Rudy belajar keras untuk membuat pesawat terbang.
Ia berjuang begitu keras mencari rumus-rumus sulit hingga melupakan dirinya sendiri di tengah berbagai hambatan hidup di Jerman.
Latar berpindah ke Bandung tahun 1962, saat ia kembali sebagai lelaki yang membawa janji yang terpenuhi.
Menariknya, ia menyadari bahwa mesin tersulit bukanlah pesawat, tetapi menahan debaran jantung saat melihat seorang kawan lama, yaitu Ainun, yang kemudian ia nikahi.
Konflik memuncak pada Mei 1998 saat ekonomi runtuh dan Indonesia mengalami krisis ekonomi. Di sinilah Rudy merelakan tahta demi negeri.
Rudy berhasil menerbangkan pesawat bangsa, dan baginya jabatan hanyalah instrumen yang bisa dilepaskan kapan saja, namun demokrasi dan kemanusiaan adalah harga mati yang harus tetap mengudara. Di persimpangan sejarah itu, ia membuktikan ucapannya:
"Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu anda adalah milik anda, tapi masa depan kita adalah milik kita bersama."
Sebuah janji yang ia tunaikan dengan merelakan tahta demi memastikan Indonesia tidak kehilangan arah di masa depan.
Hingga akhirnya pada Mei 2010, Rudy harus menghadapi kenyataan pahit bahwa hukum fisika yang ia puja tidak bisa menahan kepergian belahan jiwanya, Ainun yang meninggal dunia.



Penampilan dari kelas XI TKJ (doc: Jurnalistik Skada)
4. Kelas XI MP 2: "Sanggar Terakhir"
Gak melulu soal sejarah, kelas XI MP 2 berani tampil beda dengan membawakan genre horor.
Kisahnya berlatar di sebuah desa yang memiliki sebuah sanggar tari. Di sanggar ini, terdapat ritual tarian sakral yang tidak boleh berhenti di tengah jalan saat dilakukan.
Para murid pun giat berlatih demi pertunjukan tari tersebut. Namun anehnya, pada hari pertunjukan tidak ada satu pun penonton yang datang. Para murid yang heran kemudian bertanya kepada gurunya.
Ternyata oh ternyata, tarian ini dipertunjukkan bukan untuk ditonton manusia, melainkan untuk entitas yang sudah menjaga sanggar itu.
Sang guru, Bu Sekar dan Bu Ratri kemudian menarikan tarian tersebut untuk menyelesaikan ritual.
Begitu ritual selesai, Bu Sekar dan Bu Ratri pun hilang dengan misterius dan hanya meninggalkan selendang tarinya.
Bertahun-tahun berlalu sanggar itu pun akhirnya ditinggalkan. Penampilan horor ini ditutup dengan tarian yang bikin merinding!



Penampilan dari kelas XI MP 2 (doc: Jurnalistik Skada)
5. Kelas XI MP 1: "Legenda Balikpapan"
Pentas kelima diisi dengan cerita asal-usul lokal yang sangat erat dengan warga Kalimantan Timur.
Dikisahkan pada zaman dahulu di Tanah Paser, hidup seorang raja yang baik, adil, dan bijaksana bernama Raja Aji Muhammad.
Kerajaannya makmur berkat hasil laut dan pertanian, serta memiliki wilayah teluk yang indah.
Raja memiliki seorang putri tunggal kesayangan bernama Aji Tatin yang selalu dijaga oleh puluhan dayang.
Ketika berusia 20 tahun, Putri Aji Tatin menikah dengan seorang pangeran dari Kerajaan Kutai, yaitu Pangeran Sultan.
Sebagai hadiah pernikahan, Raja memberikan wilayah teluk kekuasaannya kepada Aji Tatin untuk membangun kerajaan dan memungut upeti berupa papan kayu dari rakyat demi membangun istana.
Namun, nasib malang menimpa rombongan kepercayaan Putri Aji Tatin yang dipimpin oleh Panglima Sendong.
Saat mengangkut papan kayu menggunakan perahu, gelombang dahsyat dan angin kencang menghantam mereka di dekat teluk.
Perahu terbalik dan terhempas ke karang hingga pecah berantakan. Seluruh penumpang, termasuk Panglima Sendong, tewas dalam musibah tersebut.
Untuk mengenang peristiwa perahu yang terbalik dan menghanyutkan papan itu, wilayah tersebut dinamakan Balikpapan.



Penampilan dari kelas XI MP 1 (doc: Jurnalistik Skada)
6. Kelas XI BR 1: "Melawan Demi Budaya, Suara dari Sanggar yang Tak Bisa Dibungkam"
Drama ke-6 ini bercerita tentang perjuangan mempertahankan budaya lewat tarian. Latar ceritanya dimulai di sebuah museum Jawa, di mana terbentuk kelompok kecil aktivis budaya.
Di sisi lain, ada sebuah sanggar tari sederhana yang terancam digusur oleh kepala desa. Sang kepala desa bahkan sampai nekat menggunakan ritual mistis untuk mengganggu murid-murid penari di sana.
Tujuan kepala desa melakukan ritual itu karena dia bersikeras ingin merebut sanggar tarinya.
Masalahnya, kalau sanggar itu dirobohkan, alhasil gak bakal ada lagi yang meneruskan tarian tradisional tersebut, padahal tarian tradisional zaman sekarang udah kayak mau punah dan cuma segelintir orang doang yang mau mempertahankan.
Namun, aksi licik tersebut akhirnya ketahuan. Setelah mendengar alasan dan perjuangan para aktivis yang gigih mempertahankan budaya agar tidak punah, kepala desa akhirnya sadar bahwa tindakannya salah.
Mereka pun berakhir damai, sanggar batal dirobohkan, dan kelestarian tarian tradisional tetap terjaga.



Penampilan dari kelas XI BR 1 (doc: Jurnalistik Skada)
7. Kelas XI AK 1: "Jejak Budaya di Atas Panggung"
Sebagai penutup rangkaian drama, kelas XI AK 1 membawa penonton ke lingkungan Sekolah Arunika yang kedatangan dua murid baru dari luar negeri.
Kehadiran mereka membawa pengaruh budaya barat yang kental, mulai dari barang-barang branded sampai playlist lagu yang western abis.
Di sekolah ini, mereka ditantang untuk tidak hanya menghargai budaya lain, tapi juga kebudayaan mereka sendiri.
Saat pelajaran Seni Budaya, para siswa diminta mengadakan pentas seni.
Namun, sempat terjadi perdebatan karena sebagian murid menentang usulan menampilkan tari tradisional; mereka ingin penampilan yang lebih stand out dan tidak membosankan.
Konflik berlanjut saat latihan, di mana dua murid luar negeri tersebut merasa bosan dan memilih kabur meninggalkan latihan berhari-hari.
Pada hari H pementasan, kedua murid baru itu tak kunjung datang sehingga sisa murid terpaksa tampil dengan formasi kosong.
Tak terduga, di tengah-tengah penampilan, kedua murid baru itu tiba-tiba datang dan langsung masuk ke dalam formasi menari!
Rupanya, mereka akhirnya tersadar bahwa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, mereka harus menghargai budaya tempat mereka berada sekarang.



Penampilan dari kelas XI AK 1 (doc: Jurnalistik Skada)
Penutupan
Rangkaian pementasan drama projek mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XI ini akhirnya resmi ditutup oleh Bu Laela.
Penampilan yang luar biasa dari tiap kelas sukses meninggalkan kesan mendalam sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi adik-adik kelas yang menonton untuk persiapan tahun depan.
Selamat buat semua kelas XI yang sudah tampil totalitas banget! (Nasya)