KADAL BERTELINGA BESAR
- Rabu, 19 Juni 2024
- adminweb
- 0 komentar
Pagi yang indah, matahari begitu ceria menunjukkan pesonanya. Aku berjalan ke arah kelas sembari membawa soal latihan dari guru yang mengajar di jam kedua. Melihat dirimu yang sedang bermain basket di lapangan, teman-temanmu memberitahumu bahwa aku ada di koridor. Kau tersenyum malu, lalu melihatku yang sedang melambaikan tangan dan tersenyum manis.
“Mau kemana?” ucapmu sedikit berteriak agar aku mendengar, kau menghampiriku karena takut-takut aku tidak mendengar teriakanmu tadi.
“Aku ingin kembali ke kelas, tetapi melihatmu di lapangan, jadi aku berhenti sebentar” jelasku kepadamu. Kau mengangguk dan pamit kembali ke lapangan.
Aku melanjutkan langkahku menuju kelas karena pasti teman-temanku sudah menunggu kertas ini daritadi.
Kalau diingat-ingat, hal tadi lucu juga ya. Kau dan aku hanya teman, tetapi berlagak seperti sepasang kekasih. Tak salah jika teman-teman menganggap kita memiliki hubungan khusus, karena kau memperlakukanku sedikit berbeda dari teman perempuanmu yang lain.
“Cantik” sebuah kata yang tak jarang kau gunakan untuk memanggilku. Kalau boleh sedikit berharap, aku harap panggilan itu hanya untukku dan Ibumu.
Sering kali jantungku berdebar saat berbicara denganmu, seperti telah berlari beratus-ratus kilometer. Aku tak mengerti arti dari perasaan itu, namun aku menyukainya.
4 bulan kemudian…
Tak terasa kami telah melewati masa SMA dengan penuh lika-liku dan melelahkan seperti memasang puzzle. Aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, begitupun Bintang, ya lelaki yang berambut ikal yang sering ku ceritakan itu bernama Bintang.
Bintang melanjutkan studinya ke Palembang, berbeda denganku yang melanjutkan studi ke kota yang terkenal dengan wisata kuliner di Jalan Malioboro.
Cukup sedih karena kami akan berpisah, tapi Bintang berpesan, “jangan sedih, dikemudian hari pasti akan bertemu lagi, entah 2 atau 3 bulan lagi. Aku janji jika ada waktu, aku akan mengabarimu.” Begitulah ucapnya.
Aku harap secepatnya akan bertemu dirimu lagi. Kau tau? Sangat berat bila berpisah denganmu, semoga kau menjalaninya dengan lancer.
Hari demi hari ku lewati dengan tenang, walau penuh lika-liku. Tentunya bersama perasaan rindu akan sosok pria berambut ikal yang biasanya menjahiliku.
Sejak 12 hari terakhir belum ada tanda-tanda bahwa kau akan menghubungiku. Aku mulai ragu dengan janji yang kau katakan pada saat itu, aku mencoba berfikir positif bahwa kau benar-benar sedang sangat sibuk. Semoga saja dugaanku benar.
Drrrtt…
Drrrtt…
Bunyi telfon genggamku menandakan bahwa ada yang menghubungiku.
“Halo?” sapaku kepada pengguna diseberang sana.
“Iya halo, ini aku Bintang, temanmu” terdengar jawaban memuaskan dari seberang sana.
“Wah ini beneran kamu?!!” tanyaku dengan sangat antusias, aku benar-benar sangat senang kali ini.
“Iya benar, ini aku. Maaf baru mengabarimu, aku benar-benar dikejar oleh proker, dan tugas lainnya” jelas Bintang kepadaku, aku benar-benar lega karena dia baik-baik saja.
Kami berbincang cukup lama, hingga tak terasa jika langit mulai redup dan matahari berganti tugas dengan bulan. Kami menutup percakapan tadi dan memutuskan untuk istirahat.
Kau dan aku sudah cukup lama dekat, tidak ada salahnya jika memiliki hubungan lebih dari teman, entah itu sahabat, pacar, atau yang lebih serius yaitu tunangan. Aku hanya bercanda mengenai tunangan, kita masih sama-sama belum sukses, dan sama-sama sedang mengejar mimpi masing-masing.
Sering kali kita dijahili teman-teman, terutama teman-temanmu. Hingga tidak heran lagi jika mereka memanggil namaku hanya sekedar untuk memberitahumu bahwa ada aku didekatmu, atau memanggil dirimu hanya untuk menjahiliku.
Tak terbayang jika kau dan aku nantinya benar-benar saling mencintai hingga hidup bersama. Hal itu bisa saja terjadi, dan mungkin bisa saja tidak.
Hari-hari terus berganti, aku menjalani studi seperti biasa. Begitupun dengan kau yang juga menjalani studi di Palembang. Tak terasa sudah hampir mendekati masa kami akan mulai sibuk dengan skripsi untuk mengejar kelulusan. Sangat sibuk, tanpa kabar, sakit kepala, kurang makan, kurang lebih itu yang terjadi pada kami.
2 hari yang lalu, aku mendengar bahwa kau sedang menyukai seorang perempuan. Namun, aku tak tahu siapa perempuan itu. Yang lebih aku tak mengerti adalah, dadaku seperti tergores ketika mendengar berita itu. Aneh, sungguh aneh.
Kau memberitahuku bahwa dirimu diterima oleh sebuah perusahaan bergengsi di Jakarta, hebat sekali. Aku sangat senang, kemungkinan besar kita bisa bertemu. Entah aku yang mengunjungimu, atau kau yang mengunjungiku.
“Minggu depan apa kamu ada urusan? Aku ingin mengunjungimu” kau bertanya serius kepadaku. Kebetulan sekali, minggu depan aku sedang kosong. Jadi kita bisa bertemu.
“Aku akan menunggumu datang di stasiun, minggu depan” ucapku kepadamu, sekitar pukul 4 sore.
Tak sabar bertemu denganmu, aku berfikir untuk memberikanmu sebuah hadiah. Tetapi aku bingung, hadiah apa yang harus kuberikan kepadamu.
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk pergi ke mall, dan membeli beberapa barang, untuk kuberikan kepada dirimu. Aku membeli sepatu, dan memutuskan untuk membuatkan beberapa makanan untukmu nantinya.
Aku mengelilingi mall sembari melihat-lihat apakah ada barang lucu yang mungkin bisa kuberikan kepadamu. Aku menemukan sebuah topi berwarna biru berbentuk telinga gajah, mungkin akan terlihat sangat lucu jika kau gunakan, jadi aku memutuskan untuk membelinya, dan memberikannya nanti kepadamu.
Setelah sampai di rumah, aku melanjutkan kegiatanku dengan tenang seperti biasa, dan memasak makanan untuk makan malam.
Tok tok…
“Permisi paket!” aku segera mematikan kompor, dan berlari untuk membuka pintu. Sedikit terkejut karena aku merasa tidak ada pesan barang online.
“Benar dengan Mba Kazia Aillen Ratih?” Tanya kurir paket tersebut untuk memastikan.
“Oh iya benar, saya sendiri. Tapi saya tida merasa membeli barang online” jawabku dengan nada bingung. Kurir itu berkata bahwa ini dari Bintang. Sedikit terkejut, aku mengucapkan terimakasih, lalu menerima paket tersebut.
Aku membukanya dan melihat isinya. Ternyata ada sebuah kotak berwarna biru laut dan pita berwarna emas. Aku membuka kotak itu, dan kulihat isinya. Ada sebuah liontin yang ditengahnya ada Kristal berwarna biru. Kutemukan juga sepucuk surat didalamnya.
Aku sangat menyukainya, segera aku akan kembali bertemu denganmu. Aku bersiap-siap untuk pergi ke stasiun, sambil membawa hadiah yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari. Kau mengabariku jika akan tiba di Yogyakarta sekitar pukul 02.00 siang Waktu Indonesia bagian Barat.
Aku menunggumu didepan pintu keluar kereta. Ketika melihatmu, aku langsung berlari dan memelukmu. Jujur saja, aku benar-benar rindu. Rasanya diriku saat ini sudah seperti gunung api yang akan meletus dan menumpahkan lahar yang sangat banyak.
Kau membawaku ke sebuah restoran yang cukup terkenal di kota ini. Kita memesan makanan, lalu menikmati hidangan tersebut, dengan sedikit obrolan ringan. Setelah makan kau pamit untuk pergi ke toilet. Aku menunggumu sambil memainkan ponselku.
Aku benar-benar sangat terkejut ketika kau datang bersama pelayan restoran yang membawa biola dengan kotak cincin yang ada di genggamanmu. Air mataku luruh ketika kau berjongkok di depanku dengan sebuah cincin ditanganmu, dan berkata.
“Kazia Aillen Ratih. Aku Bintang Razzayan Purnama, ingin mengajakmu untuk hidup bersama, dan menjadi teman hidupku untu selamanya. Apakah kamu bersedia?” sambil memegang tanganku.
“Bintang Razzayan Purnama, aku bersedia menemanimu dan hidup bersamamu selamanya.” Jawabku dibarengi dengan air mata yang terus-menerus turun membasahi pipiku.
Kau langsung berdiri dan memelukku dengan sangat erat, memasangkan cincin yang sangat indah di jari manisku. Dan terus-menerus mengucapkan terimakasih.
“Cantik” satu kata yang keluar dari mulutku ketika cincin itu terppasang di jari manisku. Aku kembali memelukmu dengan sangat erat.
“Terimakasih sudah memilihku sebagai teman hidupmu Bintang.” Hanya itu yang bisa kukatakan kepadamu. Rasa bahagiaku benar-benar sangat besar, hingga didalam perutku rasanya seperti banyak sekali kupu-kupu terbang.
Kami memutuskan untuk tunangan terlebih dahulu sampai aku menyelesaikan skripsiku. Orangtuaku dan Bintang sangat mendukung kami. Aku benar-benar bahagia.
Tiba dimana aku akan sidang skripsi. Tanganku benar-benar dingin. Kau menggenggam tanganku, dan memberi kata-kata penenang agar aku tidak tegang.
Aku keluar ruangan sidang dengan senyum sangat lebar, aku berhasil! Skripsiku diterima, dan aku bisa lulus. Benar-benar bahagia.
Beberapa minggu setelah aku wisuda. Kami menjalankan akad dengan lancar. Resepsi kami sangat sederhana, dengan tema berwarna biru, disertai lampu cantik, dan banyak sekali bunga-bunga yang tersusun rapih. Lancar, semua benar-benar lancar. Aku sangat bahagia.
Sedikit tak percaya bahwa lelaki ikal yang sering menjahiliku, yang menjadi suamiku, dan menjadi partnerku untuk seumur hidup. Aku benar-benar berterimakasih kepada Tuhan karena sudah mengirim sosok Bintang kedalam hidupku.
Bintang si Kadal Bertelinga Besar. Sudah menjadi bagian dari hidupku, untuk selamanya.
Karya : Dira Nur Hidayah – X AKL 1